Oleh : Syahnul S Titaheluw, SKel,MSi. Kadiv Ekosistim dan Biota Laut, Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (LATAMLA)
HALTIMTV.COM Aktivitas pertambangan yang berlangsung di wilayah pesisir dan perairan Kabupaten Halmahera Timur, khususnya di sekitar Teluk Buli dan Kali Kukuba, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan ekosistem laut, terutama terumbu karang sebagai pusat keanekaragaman hayati tropis.
Berbagai laporan media menunjukkan adanya dugaan pencemaran lingkungan akibat limpasan sedimen, limbah tambang, serta perubahan kualitas perairan yang berpotensi memasuki kawasan pesisir dan laut dangkal.
Ekosistem terumbu karang merupakan organisme bentik yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi fisik dan kimia perairan.
Peningkatan kekeruhan, sedimentasi, logam berat, dan perubahan parameter kualitas air seperti pH, suhu, serta kandungan oksigen terlarut dapat menyebabkan tekanan ekologis yang serius terhadap struktur dan fungsi biologis terumbu karang.
Dalam konteks ekologi laut tropis, kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada organisme karang itu sendiri, tetapi juga memicu degradasi sistem ekologis yang lebih luas karena terumbu karang berperan sebagai habitat, tempat pemijahan, area pembesaran (nursery ground), dan sumber pakan bagi berbagai jenis biota laut.
Secara umum, degradasi terumbu karang akibat pencemaran dari aktivitas pertambangan akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan populasi ikan demersal maupun pelagis.
Ikan demersal seperti kerapu, kakap, lencam, dan berbagai jenis ikan karang lainnya sangat bergantung pada kompleksitas struktur karang sebagai tempat berlindung dari predator, lokasi reproduksi, serta area mencari makan.
Ketika sedimentasi menutupi permukaan karang hidup, struktur mikrohabitat menjadi rusak dan menyebabkan hilangnya ruang ekologis yang penting bagi ikan-ikan tersebut.
Sementara itu, ikan pelagis kecil yang memanfaatkan wilayah pesisir dan terumbu sebagai area feeding ground juga akan mengalami penurunan produktivitas akibat terganggunya rantai trofik primer.
Penurunan populasi fitoplankton, zooplankton, dan organisme bentik kecil sebagai akibat akumulasi logam berat dan tingginya total suspended solids (TSS) akan mempengaruhi aliran energi dalam rantai makanan laut.
Kondisi ini secara bertahap dapat menurunkan produktivitas perikanan tangkap di wilayah pesisir Halmahera Timur karena rantai makanan laut memiliki keterkaitan ekologis yang sangat kompleks dan saling bergantung.
Dari aspek biologi terumbu karang, sedimentasi merupakan salah satu ancaman utama yang secara langsung mengganggu proses fisiologis karang.
Partikel sedimen yang melayang di kolom air akan mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dasar perairan sehingga menghambat proses fotosintesis zooxanthellae, yaitu alga simbion yang hidup di jaringan karang dan berfungsi sebagai penyedia energi utama bagi pertumbuhan karang.
Ketika intensitas cahaya menurun, kemampuan zooxanthellae dalam menghasilkan energi melalui fotosintesis menjadi terganggu, sehingga metabolisme karang mengalami penurunan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres fisiologis, penurunan laju kalsifikasi, hingga pemutihan karang (coral bleaching).
Selain itu, endapan sedimen yang menutupi polip karang akan memaksa karang mengeluarkan energi lebih besar untuk membersihkan permukaan tubuhnya melalui produksi lendir (mucus), sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi menjadi berkurang secara signifikan.
Lebih lanjut, pencemaran yang berasal dari aktivitas pertambangan juga berpotensi membawa kandungan logam berat seperti nikel, merkuri, timbal, dan kadmium ke lingkungan laut.
Akumulasi logam berat dalam jaringan karang dapat menyebabkan gangguan biologis pada tingkat seluler dan molekuler.
Paparan logam berat diketahui mampu merusak membran sel, menghambat aktivitas enzim, serta memicu stres oksidatif yang berdampak pada kerusakan jaringan karang.
Pada fase reproduksi, kondisi ini dapat mengganggu proses gametogenesis, fertilisasi, dan perkembangan larva planula karang.
Akibatnya, tingkat rekrutmen karang baru menjadi menurun dan kemampuan terumbu untuk melakukan regenerasi alami semakin melemah.
Jika kondisi pencemaran berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan lingkungan yang ketat, maka ekosistem terumbu karang dapat mengalami fase pergeseran ekosistem (phase shift), yaitu perubahan dari dominasi karang keras menjadi dominasi alga makro dan substrat mati yang miskin biodiversitas.
Dalam perspektif ekologis dan keberlanjutan sumber daya pesisir, kerusakan terumbu karang akibat pencemaran pertambangan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman multidimensional terhadap ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Penurunan kualitas habitat karang akan berimplikasi langsung terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan, berkurangnya biodiversitas laut, serta melemahnya fungsi perlindungan pantai dari abrasi dan gelombang ekstrem.
Oleh karena itu, pengelolaan aktivitas pertambangan di wilayah pesisir Halmahera Timur harus dilakukan dengan pendekatan ekologi yang lebih ketat melalui pengawasan AMDAL yang transparan, pemantauan kualitas perairan secara berkala, serta penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan berbasis ekosistem.
Perlindungan terumbu karang tidak hanya penting bagi keberlangsungan organisme laut, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas rantai makanan, produktivitas perikanan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir di masa mendatang.
Dengan Kondisi Objektif Sungai Kukuba dan Perairan Pantai Teluk Buli, Halmahera Timur yang telah terdampak pencemaran serius, Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (LATAMLA) mendesak Pemerintah segera hentikan operasional PT Feni Haltim sembari Audit Transparansi AMDAL terhadap Perusahaan tersebut.






