Oleh: Rusmin Hasan
Aktivis Orda ICMI Haltim
Tanggal 31 Mei 2003, Kabupaten Halmahera Timur resmi ditetapkan sebagai daerah otonom baru.
Kini usianya di tahun 2026 genap 23 Tahun.
Jika diumpamakan sebagai Manusia, maka usianya sudah cukup dewasa.
Kekuatan pada tubuhnya mulai berkembang, dan tumbuh menjadi manusia yang kuat.
Usia yang produktif untuk ukuran manusia. Jika itu, disematkan pada Kabupaten Halmahera Timur.
Kita semua pasti berharap, semakin bertumbuhnya maka, semakin dewasa pola berfikirnya dan capaian keberhasilannya dalam mendistribusikan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat, dan juga dari penataan memahami ruang, manusia dan masa depan Kota.
Kenapa penting, Kita harus melihat kota Maba sebagai pusat pemerintahan?
Karena Kota Maba sebagai cermin bagi masa depan Kabupaten Halmahera Timur.
Dari sisi infrastruktur dasar, pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Timur terbilang cukup berkembang secara fisik.
Namun, secara penataan ruang kota masih jauh dari harapan sebagai kota masa depan, atau sering juga disebut sebagai “smart city kota maba” (Kota pintar).
Kota Maba Kabupaten Halmahera Timur, bagi saya tak ubahnya sebagai “Kota Imajener”, kota yang mencirikan kota nyaris sunyi, yang ada hanya sekedar struktur fisiknya, akan tetapi penataan struktur sosial, ruang dan manusianya nyaris tidak ada.
Disudut-sudut kota, kita tidak jumpai lahir dialektika ide-ide yang tertata dari pikiran para aktivis, akademisi dan pegiat komunitas dan lainnya.
Yang ada hanya insfrastruktur yang menjulang tinggi namun, dibalik kemewahan bangunan kota kita tidak jumpai pikiran yang tertata.
Padahal sejatinya, kota tidak hanya soal pembangunan fisik, proyek yang dijalankan melainkan memahami ruang, manusia dan masa depan. Kota yang baik dimulai dari pikiran yang tertata.
“Menata Kota, Menata Pikiran”.
Diusia 23 Tahun, Kabupaten Halmahera Timur bagi saya, sudah harus menata kota dan menata pikiran.
Dan semua itu, bermula dari menata ruang perkotaan yang nyaman, bersih dan berpihak pada warga.
Kota masa depan bukanlah sekedar “kota smart city” yang diimpikan, tetapi kota yang mengintegrasikan infrastruktur sosial yang nyaman, humanis dengan pikiran yang tertata dan berkelanjutan.
Maka, penting kita untuk memikirkan bersama masa depan “Kota Maba”, sebagai pusat pemerintahan kabupaten Halmahera Timur.
Dan semua itu, harus bermula dari kita semua sebagai elemen penting lapisan masyarakat tidak hanya pemerintah Daerah, akan tetapi aktivis, akademisi, praktisi sosial dan masyarakat pada umumnya.
Menata Kota, menata pikiran bermula dari menata manusianya. Kota Maba bagi saya tidak ada yang istimewa.
Karena tidak ada nuansa; ” The Entertaiment Capital” (Ibu kota hiburan) dan juga tidak mencirikan “Capital Of The mind (Kota pikiran) yang tumbuh diruang publik.
Yang ada hanyalah “Taman Woyo Gula”, sebagai ruang menghilang penat atau sekedar duduk dan mampir mengambil potret gambar.
Taman Woyo gula tak ubahnya sebagai taman biasa tidak ada yang istimewah dikota ini. Saya, sering jenuh ketika beraktivitas dikota ini.
Siapa saja pasti merasakan hal yang sama. Untuk menciptakan kota Maba yang maju dan berkelanjutan sekaligus menjadikan style kota yang sebenarnya sebagai “Kota smart City”, solusinya hanya satu, pemerintah daerah sudah harus mendorong percepatan pendirian kampus sebagai “center of civilization of the mind” ( Pusat Peradaban Pikiran).
Dari situlah, kita dapat mewujudkan Kota maba tidak hanya sebagai “kota smart city “, akan tetapi juga sebagai “The Entertaiment Capital Of the World”, (Kota Hiburan dunia).
Karena mobilitas penduduk makin pesat dari situlah, akan tumbuh perputaran ekonomi baru bagi masyarakat kota dan berdampak pada lapisan masyarakat pedesaan dikabupaten Halmahera Timur.






