Example 728x250
Example 728x250
Pertambangan

Bahlil Pangkas RKAB Pertambangan

135
×

Bahlil Pangkas RKAB Pertambangan

Sebarkan artikel ini

HALTIMTV.COM – Pemerintah melalui Kementerian ESDM yang dipimpin Bahlil Lahadalia melakukan pembenahan menyeluruh terhadap  persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk sektor pertambangan Mineral Nikel dan lainnya termasuk Batubara di tahun 2026.

Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara pasokan dan kebutuhan pasar agar menjaga kestabilan harga komoditas.

“Kenapa RKAB kita potong? Tanya Bahlil, sambil menjawab “karena kita menyesuaikan antara supply dengan demand. Upaya penyelarasan antara suplai dan permintaan ini juga dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga komoditas hasil tambang, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan cadangan energi bagi generasi mendatang,” kata Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta belum lama berselang.

Langkah pemangkasan alias penyesuaian RKAB 2026 dimaksudkan untuk mencegah kelebihan pasokan (oversupply) akibat eksploitasi dan produksi yang berlebihan.

Menurut Bahlil, jika komoditas belum laku pada harga yang wajar, maka hentikan dulu produksi yang masif demi ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang.

“Kalau memang hasil tambangnya belum laku dengan harga baik, jangan dulu memproduksi secara masif, kasihan anak cucu kita ini. Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin kelak, barang sudah habis karena kelakuan kita, udah gitu jual murah lagi,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM,  Tri Winarno menyoroti dampak positif dari kebijakan Pemangkasan RKAB ini terhadap dinamika pasar.

Menurut Tri, sejak pengumuman pada 23 Desember 2025 lalu tentang pemangkasan produksi menyebabkan respons pasar yang cepat dan kenaikan harga nikel.

“Pada tanggal 23 Desember 2025, saat Pak Menteri (Bahlil) mengumumkan akan melakukan pemangkasan terhadap produksi. Maka harga nikel langsung naik. Harga itu sampai sekarang dari Rp14.800 (saat oversupply), peak-nya pernah Rp18.800, tapi sekarang mungkin bisa dicek sekitar Rp17.000 something,” ujar Tri.

Reaksi pasar yang siginifikan tersebut memperlihatkan bahwa langkah penyesuaian produksi oleh Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar global.

Bagi pemerintah, kebijakan RKAB yang lebih selektif diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan cadangan energi untuk masa depan. (hmsesdm/hltmtv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *